SigiArts
14 - 24 Juli 2011
Kurator :
Jim Supangkat, Asmudjo J. Irianto, dan Asikin Hasan
Pameran Besar Patung Kontemporer Indonesia
“CONTEMPORARY sculpture knows no boundaries. There is no material
or technology, from dirt to video, that sculpture won't pick up and exploit for
its own ends, and there are no formal parameters like, say, the flatness of
painting to constrain it.”[i]
Sulit dipungkiri bahwa kategori patung
merupakan kategori seni yang paling cair dan luas batasannya. Karya apapun yang
tidak masuk dalam kategori dua dimensi atau new
media dapat dimasukkan sebagai karya patung. Bahkan jika memasukkan
pengertian patung dalam Sculpture in the
Expanded Field dari Rosalind Krauss
maka karya-karya yang menggunakan monitor TV—bisa dianggap sebagai awal
karya-karya media baru—pun bisa diklaim
sebagai karya patung,
“On the last ten years rather surprising
things have come to be called sculpture: narrow corridors with TV monitors at
the ends; large photographs documenting country hikes; mirrors placed at
strange angles in ordinary rooms; temporary lines cut into the floor of the
desert. Nothing, it would seem, could possibly give to such a motley of effort
the right to lay claim to whatever one might mean by the category of sculpture.
Unless, that is, the category can be made to become almost infinitely malleable.”[ii]
Cairnya batasan seni patung menjadi salah satu keistimewaan patung kontemporer. Tetapi hal tersebut juga
bisa dilihat sebagai kelemahan patung kontemporer, sebab batasan yang sangat
luas dan beragam telah menyebabkan kategori seni patung hampir runtuh,
“Recently, Johanna Burton has pointed out
that this expanded, and nearly collapsed, category of sculpture, which in the
intervening years since Krauss wrote her text has continued to absorb any
number of different practices,...“[iii]
Namun luas dan cairnya batasan seni patung
tak harus dilihat sebagai runtuhnya atau krisis batasan seni patung, melainkan
sebagai realitanya saat ini, sebagaimana selanjutnya diutarakan oleh Anne
Ellegood: ”…may no longer suggest a
crisis for the medium, but simply its current ‘state of being.”[iv] Atau situasinya
seperti yang dikatakan oleh Manfred Schneckenburger: “In fact, nothing less but the crisis of identity itself had become the
true productive principle behind the extention of the term sculpture.”[v]
Bagaimana
dengan seni patung kontemporer Indonesia? Tak dapat dipungkiri bahwa akademi/
pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia sejak paruh kedua abad dua puluh telah mengajarkan prinsip-prinsip seni rupa
modern Barat. Hal itu sedikit banyak memberikan pengaruh pada patung kontemporer
Indonesia. Namun demikian kecenderungan seni rupa kontemporer yang sangat
dipengaruhi isu-isu global tentu memberikan pengaruh besar pada perkembangan
patung kontemporer Indonesia. Pluralisme, multikulturalisme, dan poskolonialisme telah mendorong
dilihatnya kembali potensi dan inspirasi dari sumber-sumber lokal, baik warisan
tradisi maupun kondisi sosial-politik lokal.
Mengacu pada teks klasik Kantian-Hegelian,
Heinrich Wolfflin, sejarawan seni asal Swiss, sudah sejak akhir abad
sembilan-belas menyebutkan adanya dua “root
of style” yaitu,
“These
are the visual or internal root, which is the link with previous art, and the
social or external root, which is the link with the contemporaneous surrounding
culture.”[vi]
Sudah tentu yang dimaksud dengan visual root adalah kecenderungan
formalis yang menjadi dasar konstruk sejarah seni rupa modern. Dengan kata lain
dalam seni rupa modern yang memainkan peranan adalah visual root. Sebaliknya, dalam seni rupa kontemporer yang lebih dominan adalah social atau external root. Hal itu dijelaskan oleh Thomas McEvilley dalam
bukunya Sculpture in the Age of Doubt,
“The
many avenues shunned by Modernist art history as growing from the nonvisual
external root are now being explored in art history text and classrooms. These
include the classic social triad (race, class, and gender); political contents
encompassing repressed ideological subtext; difference in general, especially
ethnic differences and community identities; the mystery of representation and
it secret agenda; and so on. Thus the age of doubt has opened itself precisely
to those experiences the previous age of certainty had condemned and avoided.”[vii]
Berbeda
dengan seni rupa modern Barat yang menganut acuan tunggal, maka seni rupa
kontemporer global bisa dikatakan memiliki banyak acuan. Maka, dengan
sendirinya cukup sulit menetapkan batasan seni patung kontemporer Indonesia.
Sesungguhnya dengan semakin beragamnya kecenderungan patung kontemporer, maka
dibutuhkan pembacaan, pencatatan dan pemetaan terhadap dunia patung kontemporer
Indonesia. Tanpa itu, patung kontemporer Indonesia akan menjadi wilayah yang
sulit dikenali dan difahami. Akibatnya, tidak tumbuh apresiasi yang baik
terhadap karya-karya patung kontemporer Indonesia. Padahal apresiasi yang baik merupakan salah
satu momentum bagi perkembangan seni.
Dalam
medan seni rupa Indonesia jarang sekali diadakan pameran besar seni patung.
Triennali seni patung terakhir diadakan pada tahun 1998. Tetapi tanpa expose yang khusus, kita tahu bahwa
dalam dekade terakhir terjadi perkembangan seni patung kontemporer yang cukup
luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat pada pameran-pameran seni rupa
kontemporer, baik pameran tunggal, bersama maupun pada bienal-bienal seni rupa
di Indonesia. Namun demikian pameran tetap perlu diadakan secara rutin agar
dapat dilihat keragaman dan perkembangan mutakhir patung kontemporer Indonesia. Cairnya batasan
patung kontemporer merupakan peluang bagi penjelajahan yang hampir tanpa batas,
namun tanpa pembacaan dan pemetaan, maka apa yang telah dihasilkan oleh perupa
akan tinggal sebagai wilayah yang asing dan tak dikenali keistimewaannya.
Dilatari
pemikiran tersebut, Galeri Nasional bersama para kurator pameran ini
menggagas Pameran Besar Patung
Kontemporer Indonesia. Kendati pameran ini tak bertujuan menetapkan batas-batas
seni patung kontemporer Indonesia, namun diharapkan karya-karya yang tampil
dapat menunjukkan beberapa kecenderungan dominan yang mewakili perkembangan
seni patung kontemporer Indonesia. Sesuai dengan cairnya seni patung
kontemporer, maka seniman yang diundang tak hanya pematung, tetapi juga para
perupa dengan medium lain yang juga diketahui menghasilkan karya-karya
patung.
“…; artist are multi-taskers who work
across categories and boundaries, and often do not have studios. As the art
critics and philosopher Arthur Danto wrote in After the End of Art (1996):
‘ours is a moment, at least (and perhaps only) in art, of deep pluralism and
total tolerance. Nothing is ruled out.”[viii]
Sesuai
dengan upaya memetakan patung kontemporer Indonesia, maka tidak ditetapkan tema khusus pada pameran besar
ini. Para perupa yang diundang dibebaskan untuk berkarya dengan tema dan
material apapun sesuai keinginannya. Namun demikian diharapkan para perupa
dapat menampilkan karya yang menunjukkan pencapaian terbaik sesuai dengan
identitas dan karakter karya patungnya selama ini.
Judul pameran ini,
“Ekspansi” merefleksikan jangkauan patung kontemporer
yang meluas ke berbagai arah dan kemungkinan. Harapannya,
melalui pameran ini kita dapat melihat keragaman dan keluasan patung kontemporer
Indonesia, sambil mengamati kemungkinan adanya beberapa kecenderungan dominan dan
“ikatan” yang melandasi praksis patung kontemporer
Indonesia.
[i](http://www.deitch.com)
[ii]Krauss, Rosalind E., 1997, The Originality of Avant-Garde and Other
Modernist Myths, hal. 277, The MIT
Press, Massachusetts
[iii]Ellegood, Anne, 2009, Motley Efforts:
Sculpture’s Ever-Expanding Fields, Vitamin
3-D: New Perspectives in Sculpture and Installation, hal. 6, Phaidon, New
York
[iv]Ibid.
[v]Schneckenburger, Manfred “Metamorphosa of Modern Sculpture” dalam
Art of 20th Century, editor F. Walther , Koln: Taschen, 2000. Hal 407
[vi]McEvilley, Thomas, 1999, Sculpture in the Age of Doubt, Hal. 33,
Allworth Press, New York
[vii]Ibid.
[viii]Collins, Judith, 2007, Sculpture Today, Hal. 11, Phaidon, New York
![]() |
Katalog Pameran |
Karya yang dipamerkan :
Berita terkait :
------------------------